ADAB
Nabi Muhammad SAW. bersabda:
أَدَّبَنِي رَبِّ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِي
“Tuhanku telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan baik.”
Adab adalah pendidikan lahir dan batin. Jika lahir dan batin seorang hamba telah bersih, ia akan beranjak menjadi sufi yang beradab. Barang siapa membiasakan diri mengikuti adab-adab sunah maka Alloh menerangi hatinya dengan cahaya makrifat.
Tidak ada maqom (kedudukan) yang lebih mulia dibanding mengikuti sang kekasih, Rasululloh saw., dalam menjalankan perintali-perintah, perbuatan dan akhlaknya, serta berperilaku sebagaimana adab beliau, baik ucapan, perbuatan, tekad, maupun niat.
Perbuatan adil antara Alloh dan hamba itu terletak pada tiga hal; meminta pertolongan, usaha, dan adab. Hamba meminta pertolong, Alloh yang membantu untuk bertobat. Hamba berusaha, Alloh yang memberi taufik (pertolongan). Dan hamba berperilaku dengan adab yang baik, Alloh yang memberi karomah (kemuliaan).
Barang siapa beradab seperti adab orang-orang saleh, ia pantas meraih hamparan karomah. Siapapun yang beradab layaknya adab para wali maka ia pantas mendapat hamparan qurbah (kedekatan dengan Alloh): barang siapa beradab sebagaimana kaum shiddiqun, ia berhak atas hamparan musyahadah (menyaksikan Allah): siapa yang beradab semisal para nabi, maka ia layak memeroleh hamparan uns (kasih sayang Allah) dan inbisath (kemudahan dari-Nya).
Sebaliknya, barang siapa terhalang dari adab, berarti ia telah terbentengi dari segala kebaikan, barang siapa tidak terdidik dengan perintah dan didikan para guru, maka ia tidak beradab dengan Kitab dan sunah.

