Ketahuilah bahwa talqin itu memiliki dua macam hasil; umum dan khusus. Masing-masing memiliki Rijal (tokohnya). Buah umum talqin adalah memasukkan murid ke dalam silsilah kaum sufi, sehingga ia menjadi seperti salah satu mata rantai besi dari untaian mata rantai kaum sufi yang salah satunya bergerak, maka semua mata rantai lainnya dalam untaian itu akan ikut bergerak. Karena, semua wali Allah memiliki ketersambungan dengan Rasulullah Saw.
Berbeda dengan orang yang tidak mendapatkan talqin, orang yang tidak memdapatkan talqin seperti mata rantai yang terlepas dari untaian. Kalaupun salah satu mata rantai digerakkan, mata rantai lainnya tidak ikut bergerak. Karena tidak ada ketersambungan dengan mata rantai yang terlepas dari untaian itu.
Buah khusus talqin syekh kepada muridnya adalah seperti benih yang ditanam di tanah yang gersang yang pengairannya menunggu air hujan. Maka mekar, muncul, tumbuh, berkembang dan munculnya daun tergantung pada banyak dan sedikitnya penyiraman murid melalui dzikir dan wirid.
Kesinambungan dzikir setelah ditalqin sama dengan ketersambungan kabel PLN ke rumah pelanggannya. Karena ketersambungan itulah yang mempercepat futuh atau makrifat.
Murid yang tidak rajin mengikuti pengajian tasawuf syekhnya, sama dengan petani yang menyiram satu gayung air di pagi hari dan sore hari dihamparan ladang yang luas. Sikap seperti itu tidak menyuburkan tanah, apalagi menyuburkan hati.
Murid seperti ini oleh kaum sufi dianggap melecehkan syekhnya, karena tidak tidak menjaga talqinnya. Hati murid seperti ini dalam hatinya berkata; ngapain capek-capek menjaga talqin, tidak menguntungkan bagiku. Akhirnya hati murid akan dimakan ulat, sebagaimana benih yang ditanam akan dimakan ulat.
Semoga Allah merahmatimu. Faedah dzikir setelah talqin sangat tidak terbatas.



