NAFSU, RUH, HATI DAN AKAL

Ketahuilah empat nama ini saling berhubungan (musytarok) dalam beberapa hal yang berbeda-beda. Dalam kesempatan ini kita akan menjelaskan makna masing-masing sejauh berkaitan dengan tema yang dimaksud.

Pertama, kata al-qolbu digunakan dalam dua pengertian: (1) daging melingkar yang diletakkan di sisi kiri dada. Di dalamnya terdapat lubang berisi darah hitam. Daging ini merupakan sumber dan tambang bagi ruh kehidupan, (2) kelembutan (lathifah) robbani-ruhaniah yang memiliki hati jasmani yang bergantung kepadanya, seperti bergantungnya aksiden pada materi dan sifat pada sesuatu yang disifati. Kelembutan ini menjadi hakikat manusia yang mampu memahami, mengetahui, disapa, dituntut, diberi pahala, serta diberi hukuman.

Kedua, ruh dalam konteks ini juga memiliki memiliki dua arti: (1) materi halus beruap yang dibawa oleh darah hitam. Bersumber dari lubang hati jasmani dan menyebar melalui otot-otot yang menancap ke seluruh bagian tubuh. Aliran kelembutan ini bersemayam di dalam tubuh beserta pancaran cahaya kehidupan, rasa, penglihatan, pendengaran, dan penciuman ke anggota-anggotanya layaknya pancaran cahaya lampu ke sudut-sudut rumah.

Jadi, perumpamaan kehidupan seperti cahaya yang terpancar di tembok, dan ruh ini laksana pelita. Aliran dan gerak rah dalam batin ibarat gerak pelita di sisi-sisi ramah akibat gerakan penggeraknya. Karena itu, ketika para dokter menyebut kata ruh maka yang mereka maksud adalah makna ini: uap halus yang dimasak oleh suhu hati: D2) kelembutan (lathifah) yang mengetahui dan memahami yang dimiliki oleh manusia.

Inilah salah satu dari dua nama al-qolbu, seperti yang dimaksud dalam firman Allah swt., “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku.” (QS. al-Isro [17] : 85) Dengan ungkapan lain, ruh adalah urusan robbani yang menakjubkan. Dan kebanyakan akal dan pemahaman tak mampu mencapai hakikatnya.

Ketiga, nafsu. Perihal ini juga mengandung dua arti: Arti pertama, yang merangkum dua potensi, marah dan syahwat pada manusia. Penggunaan inilah yang populer di kalangan sufi, yaitu nafsu asal yang mencakup sifat-sifat manusia yang tercela. Mereka mengatakan, “Adalah keharusan untuk mujahadat nafs dan menghancurkan syahwatnya.” Hal ini juga disinggung dalam sabda Rasulullah saw:

اَعْدَی عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ.

Musuhmu yang paling keras adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu

Arti kedua, kelembutan, yang berarti hakikat, jiwa, dan diri manusia. Tetapi digambarkan dengan bermacammacam sifat menurut perbedaan ahwal-nya. Jika ia tenang di bawah perintah dan terhindar dari kekacauan karena melawan kehendak syahwat, ia disebut jiwa yang tenang (an-nafsul muthma’innah). Alloh swt. berfirman, “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlioi-Nya.” (OS. al-Fajr [89]: 27-28)

Nafsu dalam pengertian pertama tak bisa dibayangkan akan kembali kepada Alloh karena ia dijauhkan dari-Nya sekaligus menjadi pasukan setan. Jika ketenangannya belum sempurna, tetapi melawan nafsu syahwat, ia disebut dengan nafsu lawwamah. Namun bila tidak menolak syahwat, lalu tunduk kepada tuntutan syahwat dan ajakan-ajakan setan, maka ia disebut dengan nafsu ammaroh bis-su’

Bagikan:

More Posts

Kirim Pesan

Muhammad Widodo Center © All Rights Reserved.